Mamuju Media Center
NEWS TICKER
Kamis, 3 Januari 2019 | 11:54 pm
Reporter:
Posted by: mamuju media center
Dibaca: 188

Sejarah singkat penamaan Makassar di 7 (tujuh) negara

Sejarah singkat penamaan Makassar di 7 (tujuh) negara

 

MMC.Com- Makkasan adalah salah satu nama kecamatan di distrik Ratchatewi dan salah satu dari 180 kecamatan di kota Bangkok, ibu kota negara Thailand. Selain itu juga, sebuah nama persimpangan dan lingkungan di distrik Ratchatewi, untuk persimpangan itu dibagi menjadi dua persimpangan terpisah, satu adalah titik pertemuan dari Ratchaprarop,Chaturathit,jalan Si Ayutthaya,termasuk Soi Ratchaprarop 10 atau Soi Mo Leng (Ratchaprarop 10 gang, Mo Leng gang) bernama Makkasan,

Mo Leng atau persimpangan Mo Leng atau persimpangan Ratchaprarop, dan yang lainnya adalah persimpangan Nhikom Makkasan. Ini dianggap salah satu daerah kemacetan paling banyak di Bangkok terutama pada jam sibuk atau jam kerja. Makkasan tidak jauh dari pusat utama perbelanjaan dan pusat-pusat lalu lintas di kota Bangkok, seperti Pratunam atau Monumen Kemenangan.

Kata Makassan berasal dai Suku Makassar (Kingdom of Gowa Tallo) karena tempat inilah orang-orang Makassar tinggal di masa lalu. Orang Makkasan adalah Muslim yang berimigrasi dari Celebes ke Siam sejak periode Ayutthaya di akhir pemerintahan raja Phra Narai (1656-1688). Di bawa oleh rombongan Daeng Mangalle dari Makassar. Orang-orang Siamese memanggil mereka dengan Khaek Makkasan atau tamu non Barat (Eropa) seperti Melayu, India dan Timur Tengah dll.

Dari catatan Claude de Forbin, seorang angkatan laut dari Perancis yang tinggal di kerajaan Ayutthaya pada saat itu, menyatakan bahwa pemberontak Makkasan pada tanggal 14 Juli 1686. Penindasan penguasa Ayutthaya dengan aristokrat asing seperti Constantine Phaulkon harus menggunakan pendekatan kasar sampai berakhir. Tetapi penampilan yang kejam dan mengerikan dari Makkasan di ingat oleh orang-orang Siam untuk di bandikang dengan Yaksa, insiden itu di sebut “Makkasan Rebellion”.

Ketka Raja Phuttayofta Chulalok “Rama I” (1782-1809) mendirikan kerajaan Rattanakosin (sekarang Bangkok) pada tahun 1782, ia mengizinkan orang-orang Makkasan dari Ayutthaya untuk menetap di daerah ini. Itu juga di sebut “Makkasan” hingga saat ini, dan telah menjadi nama banyak tempat di daerah ini seperti “Stasiun Makkasan”.

Stasiun transit cepat terbesar di jalur rel bandara, stasiun kereta api Makkasan, stasiun kereta api kelas 1 termasuk depot bernama, Bueng Makkasan, danau buatan besar di pusat kota Bangkok yang dibangun pada tahun 1931 oleh State Railway of Thailand (SRT), atau Makkasan Interchange, bagian dari Chaloem Maha Nakhon Expressway dan Sirat Expressway dll.

2).Kampung Makassar, di Pahang Malaysia

Kampung Mengkasar merupakan salah sebuah perkampungan yang tertua di Daerah Pekan. Berdasarkan sejarah, terdapat orang Mengkasar (Makassar) menetap di sini. Pada tahun 1722, Tok Uban atau Karaeng Aji yang bernama Muhammad Naziruddin Daeng Mammeta atau lebih dikenali sebagai Tok Tuan berketurunan Suku Makassar telah membuka sebuah kampung yang bernama Mengkasar bersempena nama tempat asalnya di Gowa/Makassar, Sulawesi Selatan.

Dari keturunan Mengkasar inilah bermulanya asal usul keturunan “Orang Kaya Indera Shah Bandar Pahang” iaitu keturunan Allahyarham Tun Abdul Razak. Tenunan sutera Pahang juga telah diperkenalkan oleh Tok Tuan, bukti kehadiran Mengkasar.

Sutera tenunan Pahang berasal dari orang orang berketurunan Gowa (suku Makassar),Apa bila VOC Belanda menawan Macassar Pulau, mereka mencari perlindungan dikepulaun Riau Indonesia dan peperangan di Riau. Seorang pegawai tinggi Makasaar yang dikenal sebagai Tuk Tuan atau Karaeng Agang Jene Daeng Mammeta (Karaeng Aji), adalah salah satu dari orang-orang pelarian datang di Pahang pada 1722 dan beliau menetap di Kampung Mengkasar, Pekan.

Bukan sahaja dia pesa tuan dan sepenuhnya fasih dan benar-benar berpengetahuan dalam tenunan sutera, beliau juga dlm mengajikan karya seni pabrik halus dan pakain, setelah dikumpulkan kain halus dan pakaian dari pelbagai bahagian Indonesi. Sebagai seorang extraordinaire penenun master, beliau dianggap sebagai perintis reka bentuk dan corak baru untuk bersampin kain dan kain sarung.

Beliau mengajar tenunan sutera dan pelbagai proses yang ramai kaum wanita kamoung termasuk kawasan sekitar. Tetapi yang lebih penting, beliau menyumbang ke arah ciptaan corak dan reka bentuk baru untuk kain. Dalam industri tenunan sutera yang unik ini berkembang di Pekan dan berkualiti tinggi dan reka bentuk terutamanya diketahui jauh dan luas dan “berjenama” karena ia adalah Perhiasan Pahang (perlu rujukan) Tuk Tuan Karaeng Aji telah dikebumikan di Perkuburan Islam di Kampung Mengkasar.

Pelajar yang diajar di Pekan meneruskan kerjanya mengajar teknik-teknik tenunan dan proses kepada generasi mereka, dan penghantaran ilmu berteruskan sehingga sekarang, yang di galakkan oleh kerajaan negeri Pahang oleh pertubuhan Kompleks Budaya Pulau Keladi,

Sebagai sutera yang paling terkenal yang ditenun di Pahang, Perhiasan Pahang telah dianugerahkan diraja status “Diraja” oleh HH.Tengku Abdullah Sultan Ahmad Shah, putera mahkota Pahang pada 8 Mei 2006. Malah sehingga ke hari ini, kek mesin, mesin khas menenun Tenun Pahang Diraja, masih boleh dijumpai dalam kebanyakan rumah dikampung itu, dan lelaki dan wanita kampung, muda dan tua, terus menjalankan aktivitas semasa mereka biarkan hidup masa.

3).Kota Pante Makassar, di Ambeno Timor Leste

Kota Pante Makassar adalah ibukota ibukota esklave Oecussi-Ambeno di negara Timor Leste. Penamaan Pante Makassar menunjuk kepada sosok Mangkubumi Gowa atau raja Tallo ke VIII Sultan Mudaffar Tumammalinga ri Timoro dengan masa pemerintahan tahun 1623 hingga 1641.

Dalam Lontaraq Patturioloang Goa Tallo atau catatan resmi kerajaan Gowa Tallo menyebutkan, raja inilah yang pernah mengalahkan Timor. Beliau adalah putra Karaeng Matowayya Sultan Abdullah “Raja Tallo VII” dan kakak kandung dari Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud “Raja Tallo IX”.

Dalam masa pemerintahannya ketika menjadi Raja tallo, sebagian besar hidupnya di habiskan di daerah Timor, dan raja ini juga sangat kaya raya dan sangat pandai dalam berdagang.Kota Pante Makassar dalam sensus penduduk tahun 2006 dengan jumlah penduduknya sekitar 4.700 jiwa.Kota ini berjarak 281 km dari kota Dili, ibukota negara Timor Leste.

4).Macassan Beach, di Garanhan Northern Territory Australia

Bagi penduduk asli Aborigin di Arnhem Land, para Pelaut dari Makassar selalu memiliki tempat spesial dalam hati mereka.Di Utara Australia nama “Makassar” yang di sebut Macassan dalam bahasa Inggris versi Australia lalu di abadikan menjadi nama di beberapa pantai dengan nama “Macassan Beach atau Pantai Makassar”

Penduduk asli Aborigin dari Suku Yolngu Macassan Beach ini adalah tempat berlabuhnya para pelaut Makassar ketika rutin datang dari abad 16 hingga awal abad 20, atau masa pemerintahan raja Gowa ke IX Daeng Matanre Karaeng Mannguntungi (1510-1546). Penduduk Yolngu menyebut orang Makassar dengan sebutan Manghatara sedangkan pelaut Makassar menyebut mereka dengan Bangsa Marege.

Kisah ini hubungan penduduk Yolngu dengan Peluat Makassar meninggalkan kesan yang dalam nan indah yang terus di ceritakan secara turun-temurun hingga saat ini.Hingga kini pemerintah Australia dengan secara resmi mencatat ada sekitar 320 bahasa Yolngu di wariskan oleh pelaut Makassar serta masuknya Islam di negara tersebut berawal dari para Pelaut Makassar.

5).Kota Macassar, di Western Cape Afrika Selatan

Terlahir dengan nama lengkap Syekh Yusuf Abdul Mahasin Tajul Kalwati al Makassari al Batani Daeng Mangago “1626-1699” yang di asingkan oleh Belanda dari Sri Lanka ke Afrika Selatan ini menjadikan pinggiran pantai sebagai tempat peristirahatan terakhirnya yang kemudian dinamakan sesuai tempat lahirnya di Makassar/Indonesia. Kota Macassar adalah sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 38.000 jiwa, yang berada di provinsi Western Cape, Afrika Selatan dekat Strand dan Somerset West.

Bagi kalangan masyarakat Muslim Afrika Selatan, Syekh Yusuf dianggap berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam. Tak hanya itu, dia juga dianggap sebagai pendiri komunitas Muslim dan budaya Melayu di Afrika Selatan. Sebagai bukti, terdapat perumahan yang diberi nama Kramat Makassar, yang berada tak jauh dari makam Syekh Yusuf.

Lokasi itu dihuni sedikitnya 40 kepala keluarga. Uniknya, sebagian besar warga di sana mengaku memiliki nenek moyang dari Makassar. Ratusan tahun telah berlalu. Kini, perkawinan campur antarsuku telah terjadi di Kampung Makassar. Dalam kehidupan berbagai suku masyarakat Afrika Selatan, bukan hanya masyarakat Muslim, terdapat pengaruh bahasa Indonesia ke dalam kosakata bahasa sehari-hari di kalangan warga Afrika Selatan.

Seperti kata Lebaran, buka puasa, piring, terima kasih, dan sembahyang serta makam syekh Yusuf al Makassari dan sebuah perkampungan macassar di afrika selatan adalah bukti sahih yang tak terbantahkan bahwa ini adalah jejak orang-orang Makassar di masa silam. Syekh Yusuf di anugerahi gelar Pahlawan Nasional di Afrika Selatan pada tahun 2005 dan di Indonesia tahun 1995, beliau juga di anggap salah satu putera terbaik Afrika (Nelson Mandela).

Next…
6.Macassar di Mozambique
7.Macassar St di Darwin, Australia
8.In Indonesia
a.Kelurahan Makassar Timur
b.Kelurahan Makassar Barat
Ternate Tengah, Kota Ternate
c.Pulau Makassar di Bau-Bau Sulawesi Tenggara
d.Kampung Daengan di Yogyakarta
e.Kelurahan Makassar
Kecamatan Makassar
Jakarta Timur,DKI Jakarta
Bersambung…

Oleh;
Crain Monte Marannu

Berita Lainnya

PT.DUA KAWAN SULBAR -Mamujumediacenter.com Copyright 2018 ©. All Rights Reserved.