Mamuju Media Center
NEWS TICKER
Senin, 4 Februari 2019 | 3:45 pm
Reporter:
Posted by: mamuju media center
Dibaca: 400

Pembatalan perjanjian Traktat Angkatan Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces/ INF) antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia

Topik : Dunia Internasional

Pembatalan perjanjian Traktat Angkatan Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces/ INF) antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia

Jakarta,MMC.Com- Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan kekhawatirannya atas pembatalan perjanjian Traktat Angkatan Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces/ INF) antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Hal ini AHY sampaikan melalui akun twitternya@AgusYudhoyono, yang dilepas Senin (4/2) pagi.

“Kemarin kita dikejutkan oleh berita pembatalan perjanjian senjata nuklir jarak menengah (INF) antara Amerika Serikat & Rusia. Ini mengejutkan & buruk bagi dunia. Perlombaan senjata nuklir bisa terjadi lagi. Dunia yang sudah banyak konflik dan peperangan, makin tidak aman,” twit AHY.”Dulu, tahun 1987, ketika Presiden Reagan (AS) & Presiden Gorbachev (Uni Soviet) menandatangani perjanjian INF, dunia merasa lega. Dunia tak terhantui perang nuklir bisa terjadi setiap saat. Apalagi Perang Dingin pun berakhir,” lanjutnya.

AHY merasa bahwa dunia perlu bersatu, termasuk kepemimpinan PBB, untuk meminta Amerika Serikat dan Rusia tetap pertahankan komitmen dan aksi nyata untuk tak kembangkan senjata nuklir. “Kalau ada persoalan, lakukan negosiasi dan tak langsung batalkan perjanjian INF,” jelasnya.

AHY berharap, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin bisa mencontoh para pendahulunya, seperti John F. Kennedy dan Nikita Kruschev, yang sama-sama menahan diri ketika terjadi Krisis Misil Kuba pada awal 1960an. “Kedua negara besar ini tidak boleh “egois”, tetapi pikirkanlah bangsa-bangsa lain,” seru AHY.

“Bisa dibayangkan jika dunia kembali berlomba-lomba kembangkan senjata nuklir, sementara kita berharap ada solusi yg baik untuk isu “nuklir Iran” dan “nuklir Korea Utara”. Bayangkan pula, kalau senjata nuklir ini jatuh ke tangan teroris,” imbau AHY.

“Bagaimana pula kalau para pemimpin AS, Rusia, dan negara lain yang punya nuklir salah perhitungan (miskalkulasi) dan “grusa-grusu” dalam ambil keputusan, termasuk penggunaan senjata nuklir? Jadi apa dunia kita?” tambahnya. Menutup cuitannya, AHY berpendapat bahwa Indonesia harus berada di depan untuk menyuarakan dunia yang damai, bebas dari senjata nuklir. “Sebagai anggota G20 dan negara
terbesar di ASEAN, kita punya hak dan peluang untuk itu. Ini juga perintah konstitusi,” Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat, 1 Februari 2019 memutuskan untuk secara resmi menarik diri dari kesepakatan rudal (INF) dengan Rusia.

Terhitung sejak Sabtu 2 Februari 2019, Amerika Serikat sudah tidak perlu lagi menjalankan kewajiban dari perjanjian INF yang sebelumnya telah disepakati kedua pihak sejak tahun 1987.

Sementara itu Presiden Vladimir Putin ikut menarik mundur dari perjanjian dan langsung menyetujui pengembangan rudal nuklir berkecepatan supersonik yang mustahil dicegat.

Berita Lainnya

PT.DUA KAWAN SULBAR -Mamujumediacenter.com Copyright 2018 ©. All Rights Reserved.