Mamuju Media Center
NEWS TICKER
Senin, 27 Januari 2020 | 5:16 pm
Reporter:
Posted by: mamuju media center
Dibaca: 1193

Perang Mematikan Perancis-Makassar di Thailand dan Nenek Moyang Napoleon Bonaparte . (Sejarah I Yandulu Dg Mangalle)

 Perang Mematikan Perancis-Makassar di Thailand dan Nenek Moyang Napoleon Bonaparte .

(Sejarah I Yandulu Dg Mangalle)

Perjanjian Bungaya tahun 1667, mengakhiri perang panjang selama 13 tahun antara Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin dan VOC (dalam hal ini Kerajaan Belanda), walaupun disebut sebagai perjanjian damai namun seluruh isinya menunjukkan deklarasi kekalahan Kerajaan Gowa.

Daeng Mangalle pergi dari Makassar sebab ia tak terima dengan pengesahan Perjanjian Bongaya, kesepakatan yang justru melucuti superioritas Gowa-Tallo sebagai kekuatan maritim. Ia minggat, menolak tunduk pada Belanda.

Dalam buku “Siri’: Bagian Kesadaran Hukum Rakyat Bugis-Makassar : Sebuah Telaah Filsafat Hukum” (Hasanuddin University Press, 1995), Mohammad Laica Marzuki menulis bahwa adik dari Sultan Hasanuddin itu terpaksa meninggalkan tanah kelahiran pada tahun 1660 setelah difitnah salah satu istri raja (hal. 122).

Tiga tahun menetap di Jawa, Usai menyingkir ke Pulau Jawa, ia mempersunting Angke Sapiah, puteri salah satu raja yang disebut masih memiliki hubungan darah dengan raja-raja Makassar.

Daeng Mangalle kemudian pindah ke daratan Siam. Permintaan suakanya kepada Raja Ayutthaya saat itu, Somdet Phra Narai (Ramathibodi III), dikabulkan. Singkat cerita, Daeng Mangalle beserta keluarga dan 250 pengikutnya yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak menjejakkan kaki di Kerajaan Ayutthaya pada tahun 1664.

Selanjutnya, Paul Gervaise, sejarawan Perancis melukiskan kedatangan mereka di sambut baik oleh Raja Narai dan bahkan mereka diberi pemukiman di pinggir sungai bertetangga dengan perkampungan orang Melayu. Kebetulan orang Melayu dan Makassar sama-sama memeluk agama Islam.

Dengan reputasi sebagai pasukan ulung, orang-orang Makassar waktu itu tak sulit membangun relasi dengan beberapa kelompok lain seperti Minangkabau, Campa, Gujarat, dan masih banyak lagi.

Kehidupan awal sang daeng beserta komunitas Bugisnya berjalan lancar-lancar saja. Mereka menjadi bagian komunitas internasional di Ayutthaya. Selain mereka, terdapat komunitas dari Persia, Melayu, Champa, Jepang, Belanda, dan Prancis.

Namun semua berubah ketika Phra Narai mendatangkan serdadu-serdadu Prancis pimpinan Claude de Forbin. Serdadu-serdadu itu didatangkan untuk menjadi pengawal sang raja. Kondisi di Ayutthaya yang rawan dengan kudeta perebutan takhta menyebabkan sang raja perlu mengamankan kekuasaannya.

Kedatangan para serdadu Prancis itu ke Ayutthaya dikarenakan hubungan baik yang terbina antara Ayutthaya dan Prancis. Pada masa Phra Narai, Ayutthaya mengirimkan delegasinya ke Prancis yang dipimpin Louis XIV.

Dalam sejarah Thailand, Phra Narai dikenal sebagai raja yang membuka banyak hubungan dengan negara-negara Barat. Ia sendiri pun pro-Barat. Bahkan sekretaris kerajaannya berasal dari Yunani bernama Constantine Faulkon seorang warga Yunani, mantan pegawai Serikat Dagang Hindia Timur Inggris (EIC) yang diangkat menjadi penasihat Raja Phra Narai.

Bagi Daeng Mangalle, kedatangan serdadu-serdadu Prancis itu ibarat bencana. Dengan serdadu-serdadu itu, kedudukan raja semakin kuat sehingga membuka peluang memperbudak Daeng Mangalle dan para pengikutnya. Pada masa itu, perbudakan merupakan hal yang lazim di Ayutthaya.

Hal yang sama dirasakan komunitas internasional lainnya, terutama yang muslim. Selain itu, Daeng Mangalle juga bersitegang dengan Faulkon. Dan kekhawatiran Mangalle bertemu dengan keinginan Phra Petracha, kakak tiri Phra Narai, yang memang tidak menyukai tindak-tanduk sang raja yang terlalu pro-Barat.

Sang raja, Phra Narai membiarkan istana kerajaan dipenuhi oleh orang-orang Barat, terutama Prancis. Claude de Forbin, sang pimpinan serdadu Prancis pun diberi jabatan sebagai Gubernur Bangkok.

Berhembus pula kabar burung jika Sang raja, Phra Narai hendak di-kristen-kan. Selain itu sang raja, yang merengkuh kekuasaan lewat intrik di dalam keluarga pewaris tahta, berlindung di balik sokongan Prancis untuk meneguhkan kekuasaannya.

Beberapa tahun kemudian Orang Makassar, Champa, Kamboja dan Melayu dan kalangan Istana menunjukkan ketidak sukaan mereka pada kebijakan Raja yang bersekutu rapat dengan Orang Perancis, Inggris, Portugis dan Belanda. Daeng Mangalle berpendapat tidak sepatutnya orang Islam bergaul dengan dan dikuasai oleh non Muslim.

Suara sumbang pun bermunculan. Sentimen anti-Eropa tumbuh subur di kalangan rakyat. Sejumlah komunitas penduduk secara terang-terangan mengambil sikap. Rencana pemberontakan pun disusun oleh komunitas Melayu, Campa dan lain-lain. Daeng Mangalle sebagai pentolan komunitas Makassar pun diajak serta.

Maka terjadilah pemberontakan pada akhir 1686 antara koalisi para pemukim Champa, Melayu, dan Persia dan Pangeran lokal melawan pasukan Kerajaan Siam yang dibantu serdadu Eropa.

Raja Phra Narai akhirnya mengetahui persekongkolan para pemberontak itu. Komunitas Melayu, Champa dan Kamboja kemudian memohon pengampunan kepada Raja yang serta merta diterima. Daeng Mangalle pun diminta juga untuk memohon ampun, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Daeng Mangalle.

Daeng Mangalle menolak tunduk memohon ampunan Raja atas tuduhan sebagai inisiator rencana kudeta. Meskipun kemungkinan Daeng Mangalle mengetahui rencana tersebut.

Tentang penolakan meminta maaf ini, Pelras menulis : “Hanya pangeran Makassar yang menolak meminta maaf. Alasannya, dia tidak pernah mau memberontak. Hanya saja kesalahannya adalah bahwa dia tidak melaporkan rencana pemberontakan orang Melayu dan Campa kepada Raja Siam – alasan sang pangeran karena dia juga tidak mau mengkhianati ke dua sahabatnya dengan membuka rahasia yang telah di percayakan kepadanya. Bagaikan buah simalakama.”

Gelarnya sebagai Pangeran Makassar mendasari sikapnya untuk tidak menjadi seorang pengadu. Ia memilih mati di medan tempur ketimbang dipaksa mengakui dirinya sebagai bagian dari kelompok pemberontak.

“Mengenai orang yang telah menghadap Paduka, saya harus katakan bahwa saya tidak memercayainya sedikit pun, karena sekarang ini Perdana Menteri Ayutthaya adalah orang Prancis (Constance Phaulkon) dan antara saya dan dia ada saling benci dengan alasan perbedaan agama,” ujarnya saat menghadap Yang Mulia Phra Narai seperti ditulis sejarawan Bernard Dorleans dalam buku “Orang Indonesia & Orang Prancis Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX” (KPG, 2006).

Akibatnya selama satu bulan wilayah kampung Makassar dikepung oleh pasukan Siam. Akhirnya raja pun mulai kehilangan kesabaran dan kemudian memutuskan menggunakan kekuatan militer untuk memerangi masyarakat Makassar yang dinggap kepala batu itu.

Forbin yang memimpin garnisun Prancis di benteng Bangkok menerima perintah raja untuk memblokir keberangkatan 2 perahu perahu Makassar yang berniat meninggalkan kerajaan Siam. Seuntai rantai yang direntangkan melintasi sungai mengharuskan satu delegasi yang terdiri dari enam orang Makassar datang bermusyawarah dengan prajurit Prancis tapi mereka menolak keras badik mereka dilucuti dan disita.

Tidak dapat dielakkan terjadi kontak senjata. Perlawanan pun pecah. Pasukan Daeng Mangalle yang 47 orang dan hanya bersenjata tombak dan badik melawan 700-an serdadu Eropa. Daerah sekitar Sungai Chao Phraya jadi medan perang sengit selama tiga pekan beruntun. Ratusan rumah terbakar, penduduk sipil turut menjadi korban.

Orang2 Makassar menghadapinya dengan “semangat siri,” keyakinan untuk membela kehormatan sampai titik darah penghabisan. Mereka menyerang orang2 Eropa dengan mengerikan mengejar pasukan Prancis dan Portugis yang saat itu juga hendak membantai perempuan dan anak-anak.

Dengan merunduk mereka menyerang dan mengejar pasukan lawan dg tombak dan badiknya bagai orang kesetanan tanpa takut mati tanah di tepi sungai serta air sungai memerah, sejengkal demi sejengkal tanah yang dilewati menjadi ladang pembantian, wanita, anak-anak semua dibunuh tanpa kecuali.

Orang Makassar bertarung dengan keberanian tiada tara. Enam orang Makassar menyerang pagoda dan membunuh beberapa prajurit serta biarawan di sana. Sebanyak 366 orang prajurit Perancis ditewaskan oleh enam orang Makassar. Siasat licik pencegatan kapal dengan harapan menangkap para pemimpin pemberontak malah berakhir nihil. Claude de Corbin, pemimpin garnisun Prancis sendiri nyaris kehilangan nyawa.

Upaya Raja Phra Narai untuk mengajak orang Makassar berunding pun menemui jalan buntu. “Kehormatan mencegah Daeng Mangalle untuk bertindak sebagai pengadu dan mata-mata terhadap teman-teman seagama,” tulis Dorleans (hal. 117).

Kehabisan cara membujuk, koalisi Ayutthaya-Eropa melaksanakan pengepungan kampong Makassar pada 23 September 1686. Raja memerintahkan serangan besar-besaran ke perkampungan orang Makassar. Akhirnya prinsip orang Bugis Makassar menghadapi tantangan “Sekali Layar Berkembang Pantang Surut Kebelakang” menyadari bahwa sudah tidak ada kemungkinan lain selain bertempur sampai mati,dan setelah menyadari mereka tak akan memenangkan pertempuran, banyak diantara mereka terpaksa membunuh istri dan anak-anaknya untuk menghindarkan keluarga mereka dari perbudakan dan di perkosa. Beberapa kali pasukan Siam harus mundur menghadapi perlawanan orang Makassar yang sangat berani dan nekat.

Bahkan seorang saksi Sejarah Peristiwa ini Menuliskan Kekaguman Mendalam Terhadap Orang-Orang Makassar, Belum pernah ia melihat ada bangsa yang seberani Bangsa Makassar, ia melihat Orang Makassar itu sudah terkapar bersimbah darah dan di Injak- injak oleh tentara Siam dan Perancis, tetapi dengan seketika Orang Makassar yang sudah terkapar dan bersimbah darah itu Bangkit dan Membunuh dua orang tentara Perancis yang ada di dekatnya, lalu kemudian ia mati perlahan-lahan.

Akhirnya, pada serangan total inilah kampong Makassar jatuh. Daeng Mangalle sendiri terluka dengan lima tusukan tombak dan setelah tangannya tertembak langsung menerjang menteri Siam dan membunuh seorang Inggris. Ia pun akhirnya tewas.

Demikianlah akhir dari pertempuran itu 22 orang Makassar akhirnya menyerah dan 33 orang prajurit Makassar dikumpulkan. Perlakuan terhadap orang Makassar yang tersisa sungguh tak terperikan kejamnya, ada yang dikubur hidup-hidup, berdiri sampai leher dan mati setelah diperlakukan dan di cemohkan serta dihinakan tanpa belas kasihan.

Sejarah ini diceritakan sendiri oleh Forbin dalam catatan harian yang ditulisnya selama masa penugasannya menumpas pemberontakan orang Makassar di Ayutthaya, Thailand.

Catatan menyebut bahwa perlawanan sekitar 200 ratus orang Makassar menewaskan kurang dari seribu serdadu Ayutthaya-Eropa. Raja Phra Narai sendiri digulingkan oleh kelompok anti-Eropa pada tahun 1688.

Riwayat perlawanan Daeng Mangalle beserta pengikutnya rupanya membekas di warga lokal. Penduduk Siam sangat mengagumi keberanian orang Makassar yang menghadapi ribuan tentara. Dengan hanya 250 orang, orang Makassar telah menewaskan tentara sebanyak 1000 orang Siam dan 17 warga asing.

Orang-orang Siam mencatat peristiwa itu sebagai peristiwa heroik yang pernah mereka saksikan. Daeng Mangalle dikenang sebagai orang hebat yang bertarung untuk membela kehormatan. Warga Siam lalu mengabadikan Makassar sebagai nama salah satu distrik di Bangkok, kini disebut sebagai Makkasan, menyesuaikan dengan lidah orang Thailand, kawasan yang dahulu bernama Krung Thep.

Dua anak Daeng Mangalle yang masih hidup, Daeng Ruru (15 tahun) dan Daeng Tulolo (16 tahun) menjadi yatim. Mereka berdua kemudian dikirim ke Prancis, sekutu Eropa nan setia dari Kerajaan Siam.

Hal tersebut dikemukakan oleh etnolog Bugis tersohor, Christian Pelras, melalui artikelnya yang terbit pada 1997. Sejarawan Bernard Dorleans kemudian mengulang temuan mendiang Pelras dalam buku “Orang Indonesia & Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX (diterjemahkan KPG tahun 2006).

Mereka akhirnya tiba di pelabuhan Paris pada 10 September 1687 setelah meninggalkan Bangkok setahun sebelumnya. Raja Prancis waktu itu, yakni Louis XIV (berkuasa 1643-1715) rupanya tak membiarkan hidup Daeng Ruru dan Daeng Tulolo terlunta-lunta. Raja bernama lengkap Louis Dieudonné itu memberi sokongan finansial dan akses pendidikan dengan alasan kelas sosial kedua pangeran.

Namun sebelum mengenyam kehidupan aristokrat Prancis, kedua pangeran itu dibaptis dengan nama Kristen. Keduanya pun memiliki nama Prancis, yakni Daeng Ruru menjadi Louis Pierre, sementara Louis Dauphin disematkan pada Daeng Tulolo.

Setelah itu, mereka kemudian didaftarkan ke kolese jesuit Louis-le-Grand Paris untuk belajar bahasa Prancis secara intensif. Fasih dengan lidah negeri keduanya, kakak-beradik ini melanjutkan studi di sekolah tinggi Clermont.

Lulus sekolah tinggi, Louis Pierre dan Louis Dauphin kemudian diterima di sekolah perwira angkatan laut Brest setelah melalui seleksi ketat. Sekolah tersebut punya reputasi bergengsi lantaran mencetak perwira-perwira –berasal dari kalangan aristokrat tentu saja– yang lihai dalam urusan pelayaran dan kelautan. Lulusnya mereka pun disebut jadi bukti perhatian dari Raja Louis XIV.

Namun, status bangsawan membuat keduanya jadi kadet yang tinggi hati. “Kedua taruna ini menjadi amat sulit diatur tapi juga merasa lebih tinggi daripada yang lain yang tentunya sesuai dengan orang Makassar yang berdarah biru. Mereka memandang perwira lain sama terhormat dan sama pintar dengan mereka tetapi berasal dari kelas yang rendah,” tulis Dorleans (hal. 124).

Karir Daeng Ruru di angkatan laut Kerajaan Prancis rupanya melesat dengan cepat. Lulus saat berusia 19 tahun -hanya dua tahun setelah menjadi kadet AL- ia langsung menyandang pangkat letnan muda yang setara letnan di angkatan darat. Dan menginjak 20 tahun menjadi letnan angkatan laut, yang setara dengan kapten angkatan darat.

Sudah jadi rahasia umum bahwa lesatan kilat karier kemiliteran waktu itu ditunjang oleh dua hal, yakni kecerdasan serta sokongan keuangan. Pengetahuan kelautan dipastikan berasal dari darah pelaut sang ayah, mendiang Daeng Mangalle. Sementara materi jadi tanggung jawab Louis XIV sepenuhnya.

Pada 3 Januari 1707, pangeran muda dengan nama Louis Pierre Makassar ini bertugas di kapal Jason—kapal dengan 54 meriam—dengan tugas memburu kapal penyerang Belanda Vlisingen. Tak lama setelah itu, ia bertugas di kapal Grand yang mengambil bagian dalam armada laut Laksamana Ducasse. Pada 19 Oktober 1707, armada laut itu tiba di Havana untuk membantu Spanyol bertempur melawan Inggris. Namun pangeran dari Makassar itu meninggal pada 19 Mei 1708, entah perkara kehormatan atau hutang judi.

Adapun karier sang kakak, Daeng Tulolo, di angkatan laut Prancis bisa dibilang biasa-biasa saja. Ia lulus pada 18 Mei 1699, namun harus menunggu selama 13 tahun agar diangkat menjadi letnan muda. Pangkat tersebut resmi disandangnya pada usia 38 tahun, dan tak berubah hingga akhir masa hidupnya.

Saat mendengar kabar si adik bungsu mangkat, “Louis Dauphin” meminta izin kepada Raja Louis XIV untuk pulang kampung ke Makassar untuk mengambil alih tahta milik leluhurnya. Namun tak disebutkan apakah Daeng Tulolo berhasil atau tidak.

Lebih jauh, Daeng Tulolo disebut sebagai pemeluk Katolik yang taat. Ia sempat aktif mendirikan ordo kesatria dan mempersembahkan sebuah gambar untuk Perawan Suci Maria. Sempat diletakkan di Katedral Notre-Dame, gambar tersebut kemudian dicabut lantaran yang bersangkutan “telah kembali ke agama nenek moyangnya dengan alasan poligami” (hal. 125).

Daeng Tulolo meninggal di Brest, 30 November 1736, pada usia 62 tahun. Pemakamannya dihadiri oleh sejumlah perwira tinggi angkatan laut Prancis. Disemayamkan dalam Gereja Saint Louis de Brest, jenazahnya hancur semasa Perang Dunia II berkecamuk akibat pemboman.

Menurut Nasaruddin Koro dalam bukunya: Ayam Jantan Tanah Daeng “Dari Louis Pierre de Macassart dan Louis Dauphin putra Daeng Mangalle inilah kakek moyangnya si Napoleon Bonaparte. Dan, itulah sebabnya, Napoleon itu kecil dan tidak tinggi. Juga, kedua cucu Sultan Hasannudin itulah yang mengenalkan Perancis dengan binatang kesayangan ayam jago. Sama persis dengan ayam jagonya Sultan Hasannudin.

“Napoleon Bonaparte itu orang Makassar,” Demikian ditulis di sebuah buku Eropa dengan nama pengarangnya Bernard Dorleans, salah seorang Penulis Top Eropa abad ke 17. Kakeknya orang Makassar, makanya lambang ayam Negara Perancis itu, lambang Ayam dari Asia, dari Gowa.

Sumber:
-Ach. Hidayat Alsair, Mengenang Perlawanan Orang Makassar digempur Ribuan Prajurit Thailand
-Yusran Darmawan, Jejak Makassar di Thailand
-Nasaruddin Koro, Ayam Jantan Tanah Daeng
-Adi Lagaruda, Petualangan Orang Makassar di Negeri Siam
-Ramang Jr, Perang Mengerikan di Thailand, 40 Orang Bugis Makassar Membantai 1000 tentara Perancis

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *

PT.DUA KAWAN SULBAR -Mamujumediacenter.com Copyright 2018 ©. All Rights Reserved.